Teknik Pengambilan Sampel

elearning.nurulhuda.id
Tidak ada gambar - https://elearning.nurulhuda.id

Teknik Pengambilan Sampel

Menurut Sugiyono Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Menurut Hamid Darmadi sampling adalah proses pemilihan sejumlah individu dalam penelitian sehingga individu-individu tersebut merupakan perwakilan kelompok besar, sedangkan Margono menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan.Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2 (dua) kelompok besar, yaitu:

1. Probability Sampling (Random Sample)

Sugiyono menyatakan bahwa probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
  1. Simple Random Sampling:Menurut Sugiyono dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Margono menyatakan bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit tampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini.
  2. Proportionate Stratified Random Sampling:Margono menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut Sugiyono teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
  3. Disproportionate Stratified Random Sampling:Sugiyono menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT. tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP.
  4. Cluste Sampling (Area Sampling):Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut Margono, teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Sugiyono memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.

2. Non Probability Sampling (Non Random Sample)

Menurut Sugiyono nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/ kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi:
  1. Sampling Sistematis:Sugiyono menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
  2. Sampling Kuota:Menurut Sugiyono menyatakan bahwa sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasiyang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling Setelah jatah terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang
  3. Sampling Aksidental:Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Menurut Margono menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga negara yang telah dewasa sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi.
  4. Sampling Purposive:Sugiyono menyatakan bahwa sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Menurut Margono, pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja.
  5. Sampling Jenuh:Menurut Sugiyono sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
  6. Snowball Sampling:Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini diminta memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel Sugiyono, Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball.

Penentuan Jumlah Sampel

Sugiyono, penentuan jumlah sampel bergantung pada tingkat ketelitian atau tingkat kesalahan yang ingin dikehendaki, sedangkan tingkat ketelitian yang dikehendaki bergantung pada sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia. Nana S. Sukmadinata, menyatakan bahwa secara umum terdapat kecenderungan habwa semakin besar ukuran sampel akan semakin mewakili populasi. Cara penentuan jumlah sampel dapat menggunakan formula empiris yang dikembangkan Isaac dan Michael dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
S = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi akses
P = Proporsi populasi, P = 0,50
D = Derajat ketepatan, d = 0,05
X2 = Nilai tabel chisquare untuk satu derajat kebabasan relatif level konfiden yang diinginkan,
X1 = 3,841 tingkat kepercayaan 0,95
Berdasarkan formula di atas dapat memberikan hasil akhir jumlah sampel terhadap jumlah populasi antara 10-1000.000 yang tertuang dalam gambar berikut ini:

Bias dalam Penentuan Sampel

Nana S. Sukmadinata, menyatakan bahwa hal yang mengganggu dalam pelaksanaan penelitian berkenaan dengan masalah pengambilan populasi dan sampel. Kesalahan pemilihan dan penarikan sampel menimbukan bias dalam penelitian. Kesimpulan yang dihasilkan tidak akan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya sehingga dapat keliru dan menyesatkan. Peneliti cenderung memilih sampel yang bersedia diteliti dan mudah dikumpulkan datanya, kecenderungan seperti ini yang dapat mengakibatkan bias karena sampel belum tentu mewakili populasi, sedangkan Hamid darmadi, juga menegaskan bahwa terdapat dua sumber utama dalam pengambilan sampel yang salah yaitu penggunaan sukarelawan dan penggunaan kelompok-kelompok yang ada hanya karena ada di situ, dalam hal ini peneliti hanya meihat pada kemudahan dala pengadministrasian tidak melihat kebutuhan data yang sebenarnya.Nana S. Sukmadinata, kekeliruan yang menyebabkan bias dalam penarikan sampel yaitu:
  1. sampel tidak memperhatikan penentuan populasi target,
  2. karakteristik sampel yang diambil tidak mewakili karakteristik populasi target,
  3. salah dalam penentuan wilayah sampel, dan
  4. jumlah sampel yang terlalu kecil, tidak proporsionl dengan jumlah populasi.
Menurut L.R Gay dalam Hamid darmadi, jumlah sampel terkecil yang dapat diterima tergantung pada jenis penelitian yang dilakukan, penelitian deskriptif 10% dari populasi, penelitian korelasi 30 subjek, penelitian kausal-komparatif 30 subjek per kelompok, dan penelitian eksperimen 50 subjek per kelompok.

Posting Komentar